GIANT LABIRYNTH: BAB 8 - Jalan Buntu
20 07 2008Hal yang buruk tak selalu terjadi di setiap tempat di dalam labirin itu. Tapi kejadian buruk itu pasti terjadi. Tak ada yang tahu kapan, tak ada yang tahu bagaimana. Semua kejadian buruk itu terjadi begitu saja dan begitu cepat.
Siapa sangka, hal buruk yang hinggap bergantian ini sudah berlangsung selama hampir satu hari. Waktu menunjukkan jam dua belas malam. Dapat dipastikan bahwa mereka semua kelelahan dan lebih memilih untuk tidur. Tapi apakah tidur merupakan tindakan yang paling tepat jika mereka sedang berada di dalam Giant Labirynth?
“BANGUN SEMUANYA!!! JANGAN TIDUR!!!” Tiba-tiba terdengar suara sosok bertopeng yang semula menjumpai mereka di ruang tunggu. Suaranya sangat memekakkan telinga. Dan apa yang membuatnya berteriak-teriak di malam-malam begini?
Huda mengumpat. Dia baru saja bisa melepaskan kelelahannya di alam mimpi. Namun gara-gara suara jelek ‘brengsek’ itu, Huda harus melihat lagi dinding-dinding dengan perasaan amat sangat jengkel.
“Selamat! Kalian semua sudah bertahan dari segala cobaan selama seharian ini. Dan sebagai hadiahnya, kalian bisa mendengarkan nama-nama teman kalian yang telah mati,” kata sosok bertopeng itu seenaknya.
“Apa sih maunya orang ini?” tanya Darwin yang sedang tidur di bawah pohon. Pohon?
Saat ini Darwin sedang berada di sebuah area luas di antara dinding-dinding. Keadaan di situ lebih hidup dibandingkan dengan keadaan di dalam lorong. Selain beberapa pohon berwarna hijau, Darwin juga bisa melihat beberapa semak dan rerumputan yang dijadikannya sebagai alas tidur.
“Berikut akan nama-nama mereka, dimulai dari yang pertama. Oh ya, kalian yang berada di urutan terakhir pasti sudah pernah mendengarkan hal ini. Tapi teman-teman kalian yang belum sempat mendengarkan pasti juga mempunyai hak, kan?” Sosok bertopeng itu tertawa bersama kebahagiaannya yang tidak jelas. “Diaz, Syifa, Prita, Ari, Trino, Galih P, Adip, Sari, Nita, Ongki, Buset, Arya, Helvea, Thatha, Amel…”
Yasin dan Agung, menyandarkan diri sambil duduk dan memandangi langit. Mereka penasaran, meskipun sedih, untuk mendengarkan siapa saja yang mati setelah itu.
“Anggi, Singgih, Arief, Fitrah, Wahab, Rama, Gelar, Hendy, Azlan, There, dan terakhir Wiwit. Hehehe… maaf mengganggu tidur kalian. Sekarang silahkan kembali tidur!”
Suara sosok bertopeng itu hilang lagi. Semua kembali sunyi. Yanto tak mampu mengucapkan apa-apa mengenai hal yang baru saja ia dengarkan ini. Teman-temannya mati satu persatu. Semuanya terjadi begitu cepat, lebih cepat dari yang pernah Yanto perkirakan.
Menurut Yanto, labirin ini memang memiliki suatu keanehan. Ada kekuatan lain yang membuat mereka tak dapat berpikir jernih. Mereka memang terpisah-pisah, tapi Yanto bisa merasakan kalau nyawa mereka semua yang ada di sana sedang terancam. Hal itu jelas terbukti dengan sudah melayangnya nyawa beberapa temannya.
“Ini tak bisa dibiarkan terlalu lama. Aku harus cepat keluar dari sini,” batin Yanto.
Namun, dia membatin dengan perasaan tak menentu. Yanto tidak benar-benar yakin apakah dirinya sungguh-sungguh bisa keluar dari labirin ini. Semua persimpangan, belokan, dan kejutan-kejutan yang tersimpan di dalamnya telah membuat Yanto sedikit takut untuk melangkah. Belum lagi jika dia harus bertemu dengan teman-temannya yang memilih untuk mengakhiri semua ini dengan cara instant. Ya, dengan membunuh.
DUAR!
Sebuah ledakan terdengar tak jauh darinya… lagi. Yanto mulai terbiasa setelah sekian kali terusik. Dia menggenggam erat sekantung adonan yang didapatkannya dari dalam tombol merah. Adonan itu berbentuk bulatan-bulatan kecil dan bertekstur kenyal, seperti adonan martabak. Yanto tak tahu hal apa yang bisa dilakukannya dengan adonan itu.
“Hahaha… konyol sekali! Memangnya adonan ini bisa melindungiku dari peluru?” Yanto mengambil salah satu bulatan, meremas-remasnya, dan memasukkannya lagi ke dalam kantung. “Dimakan pun tidak bisa. Aku sudah mulai lapar nih!”
Yanto mengeluarkan lampu senter kecil yang sangat beruntung ia temukan tergeletak di jalan yang dilewatinya tadi. Ia menyalakannya dan mengarahkannya ke tanah di depannya. Yanto, siap tidak siap, mulai berjalan lagi.
“Hei, siapa itu?” seseorang berteriak dari jauh di belakang Yanto. Yanto cepat-cepat berbalik dan mendapati orang itu mengarahkan cahaya senter ke mata Yanto. Dia menjadi silau. “O, Yanto! Ini aku!”
“Turunkan sentermu!” teriak Yanto sambil melindungi matanya dengan telapak tangan.
“Ups, sorry!”
Seseorang itu berlari mendekati Yanto. Dia terdengar bersahabat, oleh karena itu Yanto tidak menghindarinya. Setelah dekat, Yanto sadar kalau seseorang itu adalah Zinzia. Anak itu datang lengkap dengan topi dan senyumnya seperti biasa. Jika diperhatikan lebih seksama lagi, Yanto tak mendapati hal lain yang menemani Zinzia selain senter di tangan.
“Yanto, untung aku ketemu kamu!” seru Zinzia. “Kamu punya makanan? Aku lapar nih!”
GLODAK! Yanto hampir terjatuh. Dia sendiri sedang bingung mencari sesuatu yang bisa mengganjal perutnya, eh Zinzia malah dengan wajah tak bersalah meminta makanan padanya.
“Maaf, ya! Aku juga lagi kelaparan nih! Aku malah mengira kamu mau ngasih makanan, Zie,” jawab Yanto lugu. Wajah putus asa pun menempel pada Zinzia. “Sudahlah. Kita cari makanan sama-sama saja. Lagi pula kalau kita sama-sama, kita bisa saling melindungi kan.”
Zinzia setuju saja dengan yang Yanto katakan. Dia tak punya pilihan lain lagi selain berjalan dengan Yanto malam-malam buta begini. Zinzia sudah tidak mengantuk setelah seharian tadi dia tidur pulas di tempat yang Zinzia sendiri tidak tahu mengapa begitu sepi, atau mungkin kebetulan saja sepi. Alhasil, sekarang dia tak bisa memejamkan mata. Dan kebetulan juga, Yanto kelihatan sedang tak ingin tidur. Apa salahnya kalau dia bergabung untuk menemani Yanto?
“Kamu tidak tidur, Yanto?” tanya Zinzia.
“Tidak bisa tidur. Sekali aku terpejam, sesuatu selalu mengagetkan aku. Entah itu suara tembakan atau teman kita yang menjerit. Sekarang aku malah takut untuk tidur. Kalau kamu?”
“Aku sudah tidur dari tadi. Tidur pulas sekali! Akhirnya ya… begini, lapar dan tak punya senjata.”
“Kamu beruntung sekali ya!” kata Yanto sambil menepuk pundak Zinzia. Zinzia sendiri hanya tersenyum. Tak disangka, bisa tidur di tempat seperti ini menjadi sesuatu yang luar biasa di mata Yanto.
Mereka berdua terus melangkahkan kaki… sampai menemukan dua temannya yang lain sedang berdiri terdiam di sebuah pertigaan. Mereka adalah Ayu dan Dinal. Mereka sedang membicarakan sesuatu yang terdengar buruk.
“Hai, kalian sedang membicarakan apa?” tanya Yanto sambil melambaikan tangannya.
“Ah, Yanto, syukur kamu datang ke sini! Benar-benar tepat pada waktunya!” sahut Ayu dengan penekanan-penekanan pada beberapa kata. “Kamu bawa minum?”
Yanto terpukul sekali lagi. Apakah dirinya tampak seperti seseorang yang selalu menyediakan segalanya? Sejak tadi… kalau tidak minta makanan, ya minta minuman.
“Wah, kita juga sedang mencari tuh,” jawab Yanto. “Kalian kelihatan capek sekali.”
“Iya! Capek sekali! Sebaiknya kalian kembali lagi. Dua jalan di depan kalian ini adalah jalan buntu,” jawab Dinal yang tampak basah oleh keringat.
“Hah, jalan buntu?!” Zinzia lumayan kaget.
“Ya, dan lebih baik kalian tidak melewati jalan ini,” tambah Ayu sambil menunjuk jalur sebelah kirinya. “Kalian tidak akan bisa tidur lagi.”
“Maksudnya?” tanya Yanto semakin penasaran.
“Lihat saja ke sana,” jawab Ayu.
“Tidak! Lebih baik jangan dilihat!” potong Dinal cepat.
Yanto dan Zinzia hanya bisa saling pandang. Hal mengerikan macam apa yang tersembunyi di dalam jalan itu, sampai-sampai kedua temannya ini tidak tenang? Zinzia tak bisa menyembunyikan rasa penasarannya. Dia segera melangkahkan kaki ke jalan yang ditunjuk Ayu, Yanto mengikutinya dari belakang.
“Ada di tikungan ketiga sebelah kiri!” kata Ayu cukup keras. Dirinya dan Dinal tidak mau menemani Yanto dan Zinzia. Sesuatu yang buruk sudah ada di sana, dan memang ada. Ayu dan Dinal tak mau melihatnya untuk kedua kalinya.
Yanto dan Zinzia terus berjalan melewati jalan yang menjadi pangalaman buruk bagi Ayu dan Dinal. Tikungan ketiga sebelah kiri, semakin dekat. Yanto mengarahkan pandangannya ke beberapa tikungan yang mereka lewati begitu saja, masih ada jalan lain di dalam sana.
“Hmph!”
Zinzia lebih dulu melihat sesuatu di tikungan ketiga sebelah kiri itu. Dia menutupi mulutnya. Dia mau muntah. Keterkejutan yang teramat sangat telah membuat seluruh isi perut Zinzia melonjak keluar. Dia cepat-cepat memalingkan diri dan menjauh dari sana.
“Ada apa?” Yanto tak bisa mendiamkan dirinya diliputi rasa penasaran. Beberapa langkah lagi… Yanto menoleh ke kiri.
Comments : 1 Comment »
Categories : Giant Labirynth, Novel





Yang barusan comment